Marhaban Ya Natalan
Cari sensasi? Mungkin… Desperate looking for a fame? Gak tau juga. Tapi yang jelas ini tulus.
Yak, saya ucapkan selamat natal buat sodara-sodara sekalian yang merayakan. Semoga makin damai di hati, dan makin damai juga bumi ini.
Sementara banyak umat muslim dan sebagian ulama mengharamkan ucapan ini. Tidak demikian bagi saya. Mungkin penafsiran lakum dinukum waliyadin bagi saya sedikit berbeda dari mereka. Dan atas nama tenggang rasa, saya beranikan berpendapat demikian. Bukankah selain hablum minallah kita juga ada hablum minannaas? Apakah yang beda agama itu bukan naas?
Tentu beda ceritanya kalau saya ikut peribadatannya. Ikut misa natal misalnya. Itu sudah tidak dapat dibenarkan bagi saya. Tapi kalau cuma ngucapken selamat, ikutan hepi-hepi, makan-makan, apa salah?
Soal judul, oh well, saya berpikir kalau asik wae pake judul itu. Ndak lebih
Hidup Tanpa Uang
Bisa ndak kita hidup tanpa uang? Saya sendiri masih sangat meragukannya. Tapi Mark Boyle (30) telah membuktikan bahwa dia bisa hidup tanpa mengeluarkan uang sepeserpun selama setahun.
Mister Boyle ini bukanlah orang nekat. Juga bukan orang yang ndak paham soal ekonomi. Pria kelahiran Irlandia ini adalah seorang sarjana ekonomi.
Untuk hidup tanpa mengeluarkan uang sepeserpun. Mister satu ini mendaur ulang semua yang mungkin. Menanam bahan pangan sendiri di rumahnya. Telpon nya hanya untuk menerima panggilan saja. Semua tenaga listrik yang dia butuhkan, berasal dari tenaga surya. Dia mendapatkan pakaian-pakaian bekas dari kelompok pendaur ulang, dan menggunakan koneksi internet gratis yang tersedia di lingkungan sekitarnya.
Memang, Mister Boyle tidaklah benar-benar hidup tanpa uang. Toh dia juga masih butuh uang untuk beli laptop dan beberapa pembangkit listrik yang ia gunakan. Tapi toh dia sudah setahun hidup tanpa mengeluarkan uang. Mau meniru?
Baca selengkapnya di The Guardian
Hello world!
Welcome to WordPress. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!
Bicara Soal Hak Cipta Tulisan
Pernah gak tulisan sampeyan dikopi, dan dipublish oleh orang lain? Kalau pernah apa yang sampeyan lakukan? Kebakaran jenggot dan ngamuk-ngamuk? Negur baik-baik, bikin tulisan sindiran atau diemin saja?
Tentunya, gaya tiap orang akan beda-beda. Tapi kalau menurut saya, sudah gak jaman ngamuk-ngamuk soal tulisan yang dikopi. Apalagi tulisan itu sifatnya tutorial yang kalau di share akan mencerdaskan kehidupan bangsa. Tambah kurang relevan untuk ngamuk-ngamuk.
Sampeyan pernah tahu Inul Daratista? Atau mungkin Kangen Band? Mereka terkenal karena bajakan. Pada masanya, mereka malah jauh lebih terkenal dari artis-artis yang selalu meributkan hak cipta. Jadi, anggap saja promosi gratis kalau tulisan sampeyan dikopi
E tapi, bagaimana kalau yang ngopi itu tidak memberikan atribusi sepantasnya bagi kita, dalam hal ini penulis aslinya? Oh well, silahkan dicoba dikomunikasikan dahulu. Sebagai manusia, khilaf itu biasa
. Kalau masih bandel doakan insap saja lah.
Saya sendiri tidak begitu masalah kalau ada yang mengkopi atau merepost tulisan saya. Walaupun sebenere saya lebih seneng kalau orang lain itu me-remix tulisan saya dengan gaya tersendiri, dan menjadi tulisan yang lebih baik. Istilahnya bangga lah. *emange ada yang mau?*
Oh iya, yang saya bilang di atas belum tentu cocok bagi sampeyan, bahkan bagi saya sendiri, dalam beberapa situasi. Tulisan yang nyeni seperti cerpen atau puisi misalnya. Akan lebih enak kalau diberi atribusi sepantasnya dan tidak diubah-ubah alias di-remix
Terakhir, komunikasikan dengan jelas bagaimana seharusnya memperlakukan tulisan kita, apakah bebas, berlisensi ketat atau yang lain. Kalau saya sendiri? Bisa dilihat di halaman persetujuan
Polri Gak Butuh Masyarakat, Katanya…
Polri ndak butuh masyarakat, katanya… Trus yang protes itu ndak tahu hukum. Katanya lagi…

Nah lho… Sebenere saya pengen marah, tapi ndak ada gunane, pengen ndebat juga susah kalau kapasitas otaknya beda
— saya terlalu bodoh untuk mendebat Mas Evan Brimob itu. Saya khan cuma orang yang gak tahu hukum. Jadi saya serahkan saja lah pada yang pinter-pinter untuk menilainya. Tapi ya, saya cuma berharap, semoga saja memang itu hanya oknum. Semoga saja tidak di orientasikan demikian dalam pendidikan nya.
Oh iya, pagi ini rame banget buku tamu Polri yang mengutuk itu Mas Brimob. Kurang tahu lah bagaimana kelanjutannya.
Sumber: pengaduan di jogja.polri.go.id
Kami Tahu, Kalau Kamu Orang Sukses
Pernah gak sampeyan nemui update status facebook, twitter atau mungkin jejaring sosial kontak sampeyan yang bunyinya kurang lebih begini:
senangnya hari ini dikasih kartu kredit platinum sama Bank XXX setelah mereka tahu saya dipercaya banyak klien besar
Atau mungkin
enaknya jadi nasabah prioritas, ndak usah antri kalau urusan sama bank
Atau kalau mungkin sampeyan beredar di komunitas yang lebih muda
aduh bingung ni mau pacaran sama siapa, si santi bodinya nggak nguatin, tapi si sinta lebih cantik dan putih
Mungkin, dari status status di atas mengungkapkan kejadian yang memang apa adanya. Dan juga mungkin status tadi membantu mengangkat personal brand sang pembuat status yang sedang membranding dirinya atau sangat butuh yang namanya itu personal brand.
Dengan gampang, orang bisa menyimpulkan kalau pemilik status adalah orang yang sukses, bisa dipercaya. Tapi coba dipikir baik baik. Sakit sodara-sodara! Bagi yang baca, dan kebetulan belum sesukses yang bikin status.
Gak salah sih menyakiti hati orang demi sebuah branding. Tapi apa ya pantes? Think before you type friend
Selamat Ulang Tahun bocahmiring.com
Hai. Gak kerasa sudah setahun blog saya memakai alamat bocahmiring.com. Setelah sebelumnya memakai berbagai macam platform dan domain. Mulai dari blogspot, multiply, hosting gratisan, wordpress.com dan akhirnya memutuskan untuk membeli domain dan memasang wordpress yang selfhost.
Banyak terima kasih buat Mas Dapit yang sudah dengan baik hati bersedia ngutangin saya domain, juga buat temen-temen yang dengan relanya singgah dan memberi komentar di blog yang sangat ndak mutu ini.
Pencapaian dalam setahun ngeblog di tempat yang bisa dibilang settle ini? Sepertinya tidak ada
. Demikian juga roadmap mau diapakan blog ini kedepannya. Personal branding? Atau menjadikan blog ini menjadi sesuatu? Belum kepikiran tuh. Pokoknya nulis apa yang saya seneng saja
Sekali lagi buat Mas Dapit, penyedia host saya, dan terutama buat temen-temen yang sudah bersabar meluangkan waktu di blog saya ini, matur tengkyuuu!
M. H.
Apa Itu Blogger? Dan Pencarian Saya Berlanjut
Selamat hari blogger sodara-sodara. Meskipun sekian lama saya bingung akan arti daripada blogger atau narablog itu sendiri.
Di hari istimewa ini, Bung Pitra sebagai salah seorang blogger ngetop negeri ini, sekaligus kandidat manusia kursi Pesta Blogger 2010
membuka sesi tanya jawab mengenai per bloggingan. Dan kesempatan ini saya gunakan untuk menanyakan pertanyaan saya yang sudah lama menggelayut di hati
Oke, kira kira begini yang saya tanyakan:
apa itu blogger? Apa ada syarat lain jadi blogger selain mempunyai blog? [link]
Dan beginilah jawaban beliau:
- blogger = yg menulis blog (di tumblr, blogspot, wordpress, dagdigdug, host sendiri) dlm format bertanggal n berkomentar. [link]
- perasaan gak ada syarat lain seseorang utk menjadi blogger kec dia punya alamat blog (yg harapannya tentu diupdate selalu). [link]
Dengan begitu, sepertinya saya mulai bisa memberanikan diri saya untuk bisa disebut blogger. Meskipun pada kenyataan sehari-harinya saya merasa agak kurang pantas disebut blogger. Dan mungkin menurut beberapa pihak memang begitu
Oh iya, sebagai bonus, –entah serius entah becanda entah sinis, saya kurang tahu, karena saya pribadi tidak begitu mengenal beliau– begini kata Mas Iman Brotoseno soal blogger: …
Apakah saya seorang blogger? Saya lebih suka kalau dibilang blogger wannabe
Selamat Berpesta
Selamat berpesta para blogger. Have a great time ya? Jangan berantem kaya tahun kemarin lagi.
Buat yang mayoritas, jangan pinggirkan yang minoritas. Pokoke jangan ngeksklusip.
Oh ya, maap kalau gak dateng buat yang ke tiga kalinya. Disamping karena belum berani disebut blogger, takut nanti kayak anak hilang disana, tahun ini juga lagi sepi order
Badkiddies, Indonesia Unite, Dan Common Sense
Beberapa hari yang lalu, ada rame-rame soal website #indonesiaunite yang di deface oleh badkiddies. Tentu saja para penggiat Indonesia Unite, yang setidaknya aktif di web itu pada kebakaran jenggot. Kok bisa-bisanya website perjuangan di deface. Oleh bangsa sendiri lagi. Kira-kira gitu kali ya yang ada di pikiran para penggiatnya.
Dan kebetulan, waktu itu, twitter nya Pandji di take over oleh seseorang. Tambah ngamuk-ngamuk lah para penggiat itu. Mengingat Pandji adalah salah satu ikon mereka.
Orang bijak bilang, hati boleh panas tapi kepala mesti tetep dingin ada benarnya juga. Dalam kasus kemarin, mungkin beberapa teman-teman disana agak kurang dingin kepalanya. Kebawa hati yang panas mungkin, sehingga boleh dibilang malah membuat kasus nya ndak karu-karuan, dan kalau boleh saya bilang, beberapa cukup menggelikan.
Mulai ada yang salah sangka kalau Masdapit adalah badkiddies sampai, ada yang berpendapat kalau itu kerjaan nya salah satu twitter user group yang iri karena kalah tenar. Oh my… Where’s their common sense?
Lesson learnt: dinginkan kepala sebelum melakukan sesuatu, terutama kalau kita adalah orang yang cukup didengar orang lain. Common sense first kawan!

