Hehehehe, pernah dengar ucapan itu? Ataupun: sesama Bus Kota dilarang saling mendahului. Pastinya pernah ya? Kalau belum pernah, silahkan sampeyan nonton reog, jathilan, atau naik bis kota.
Hal itu yang sedang saya pikirkan baik baik, ketika akan memulai usaha. Sampai sekarang, saya belum dapat ide usaha dimana saya bisa dan belum dilakoni temen saya yang lain. Di sisi lain, saya tetap harus bertahan hidup bukan? Saya yang kurang ide, atau temen saya yang banyak? Entahlah…
Memang, rejeki orang sudah ditetapkan masing-masing, tapi saya merasa ndak enak atau ndak etis saja kalau saya menyamai bidang usaha teman-teman saya. Apalagi yang satu kota. Istilahnya, ngrecoki rejeki. Fals menurut saya.
Solusi sementara yang bisa saya dapatkan adalah pembagian target pasar. Bisa dengan bermain di segmen yang berbeda, wilayah yang berbeda ataupun cara pemasaran yang berbeda. Yang jelas, saya mesti berhati-hati sekali supaya tidak terjadi kisruh antara saya dan teman yang mempunyai bidang usaha sama.
Satu contoh, ada seorang teman saya yang menjalankan usaha web hosting. Pelanggan nya kebanyakan adalah perorangan yang membutuhkan webhost terjangkau, tidak terlalu membutuhkan fasilitas aneh aneh ataupun resources yang besar. Ketika saya mau menjalankan usaha yang sama, bukankah lebih baik saya memasarkan dagangan saya di segmen yang berbeda? Katakanlah, kepada orang-orang yang membutuhkan webhost yang mempunyai resources seperti CPU, RAM atau bandwidth yang lebih, sehingga harga menjadi prioritas kedua misalnya.
Di atas kertas, dengan cara itu potensi pendapatan memang lebih kecil, karena target pasarnya menyempit. Tapi, dalam opini saya hal ini bisa menciptakan suasana yang lebih kondusif, dan energi yang digunakan untuk persaingan usaha, jauh lebih kecil, hingga sisa energi yang banyak itu bisa lebih digunakan untuk berkonsentrasi di bidang pemasaran, atau pengembangan usaha misalnya. Efek jangka panjangnya? Usahanya sama-sama lebih long lasting. Selain itu, pertemanan tidak terganggu.
Ada yang terlewat pada pendapat saya?

