Marhaban Ya Natalan
Cari sensasi? Mungkin… Desperate looking for a fame? Gak tau juga. Tapi yang jelas ini tulus.
Yak, saya ucapkan selamat natal buat sodara-sodara sekalian yang merayakan. Semoga makin damai di hati, dan makin damai juga bumi ini.
Sementara banyak umat muslim dan sebagian ulama mengharamkan ucapan ini. Tidak demikian bagi saya. Mungkin penafsiran lakum dinukum waliyadin bagi saya sedikit berbeda dari mereka. Dan atas nama tenggang rasa, saya beranikan berpendapat demikian. Bukankah selain hablum minallah kita juga ada hablum minannaas? Apakah yang beda agama itu bukan naas?
Tentu beda ceritanya kalau saya ikut peribadatannya. Ikut misa natal misalnya. Itu sudah tidak dapat dibenarkan bagi saya. Tapi kalau cuma ngucapken selamat, ikutan hepi-hepi, makan-makan, apa salah?
Soal judul, oh well, saya berpikir kalau asik wae pake judul itu. Ndak lebih
Bicara Soal Hak Cipta Tulisan
Pernah gak tulisan sampeyan dikopi, dan dipublish oleh orang lain? Kalau pernah apa yang sampeyan lakukan? Kebakaran jenggot dan ngamuk-ngamuk? Negur baik-baik, bikin tulisan sindiran atau diemin saja?
Tentunya, gaya tiap orang akan beda-beda. Tapi kalau menurut saya, sudah gak jaman ngamuk-ngamuk soal tulisan yang dikopi. Apalagi tulisan itu sifatnya tutorial yang kalau di share akan mencerdaskan kehidupan bangsa. Tambah kurang relevan untuk ngamuk-ngamuk.
Sampeyan pernah tahu Inul Daratista? Atau mungkin Kangen Band? Mereka terkenal karena bajakan. Pada masanya, mereka malah jauh lebih terkenal dari artis-artis yang selalu meributkan hak cipta. Jadi, anggap saja promosi gratis kalau tulisan sampeyan dikopi
E tapi, bagaimana kalau yang ngopi itu tidak memberikan atribusi sepantasnya bagi kita, dalam hal ini penulis aslinya? Oh well, silahkan dicoba dikomunikasikan dahulu. Sebagai manusia, khilaf itu biasa
. Kalau masih bandel doakan insap saja lah.
Saya sendiri tidak begitu masalah kalau ada yang mengkopi atau merepost tulisan saya. Walaupun sebenere saya lebih seneng kalau orang lain itu me-remix tulisan saya dengan gaya tersendiri, dan menjadi tulisan yang lebih baik. Istilahnya bangga lah. *emange ada yang mau?*
Oh iya, yang saya bilang di atas belum tentu cocok bagi sampeyan, bahkan bagi saya sendiri, dalam beberapa situasi. Tulisan yang nyeni seperti cerpen atau puisi misalnya. Akan lebih enak kalau diberi atribusi sepantasnya dan tidak diubah-ubah alias di-remix
Terakhir, komunikasikan dengan jelas bagaimana seharusnya memperlakukan tulisan kita, apakah bebas, berlisensi ketat atau yang lain. Kalau saya sendiri? Bisa dilihat di halaman persetujuan
Kami Tahu, Kalau Kamu Orang Sukses
Pernah gak sampeyan nemui update status facebook, twitter atau mungkin jejaring sosial kontak sampeyan yang bunyinya kurang lebih begini:
senangnya hari ini dikasih kartu kredit platinum sama Bank XXX setelah mereka tahu saya dipercaya banyak klien besar
Atau mungkin
enaknya jadi nasabah prioritas, ndak usah antri kalau urusan sama bank
Atau kalau mungkin sampeyan beredar di komunitas yang lebih muda
aduh bingung ni mau pacaran sama siapa, si santi bodinya nggak nguatin, tapi si sinta lebih cantik dan putih
Mungkin, dari status status di atas mengungkapkan kejadian yang memang apa adanya. Dan juga mungkin status tadi membantu mengangkat personal brand sang pembuat status yang sedang membranding dirinya atau sangat butuh yang namanya itu personal brand.
Dengan gampang, orang bisa menyimpulkan kalau pemilik status adalah orang yang sukses, bisa dipercaya. Tapi coba dipikir baik baik. Sakit sodara-sodara! Bagi yang baca, dan kebetulan belum sesukses yang bikin status.
Gak salah sih menyakiti hati orang demi sebuah branding. Tapi apa ya pantes? Think before you type friend
Zakat Ala Saya
Gak kerasa ya? Lebaran sebentar lagi. Sudah pada bayar zakat belum? Selain zakat fitrah, ada juga zakat mal.
Kali ini, saya pengen ngomongin soal zakat fitrah. Zakat yang biasa kita bayar dengan bahan pokok — umumnya beras –
Sudah lima tahunan, saya membayarkan zakat fitrah saya langsung kepada yang saya anggap membutuhkan, dengan wujud uang tunai. Bukan bahan pokok seperti layaknya orang-orang. Saya punya alasan sendiri kenapa saya memilih jalan itu.
Begini, pernahkah sampeyan berkunjung ke pedagang bahan pokok pada masa-masa hari raya? Saya pernah. Disana saya temui banyak penerima zakat yang menjual lagi beras yang diterimanya karena mempunyai kebutuhan lain yang lebih mendesak disamping bahan pokok. Selain itu, stok bahan pokok mereka di saat itu, bisa dibilang cukup melimpah.
Bukankah mubadzir, kalau bahan pokok itu akhirnya harus dijual kembali dengan harga yang tentunya lebih rendah dari harga jual si pedagang. Katakanlah harga jual 2,5 Kg beras (satu paket zakat) adalah 15 ribu, mungkin hanya bisa dijual kembali seharga 10 sampai 12 ribu.
Jadi, saya akhirnya memberanikan diri untuk mengambil kesimpulan kalau zakat dengan bentuk uang tunai jauh lebih bermanfaat bagi si penerima. Dan saya melakukan apa yang menurut saya baik dan bermanfaat. Soal kenapa mesti langsung? Tidak melalui masjid atau lembaga-lembaga zakat, saya cuma khawatir kalau zakat saya dibelikan beras sama panitianya.
Hormatilah Orang Yang Tidak Berpuasa
Hormatilah orang yang berpuasa.
Hormatilah bulan puasa.
Dua kata-kata itu mungkin sudah sering sampeyan lihat. Atau sampeyan temui di jalan jalan. Dan saya ndak akan mengulangi himbauan itu di blog saya ini.
Saya pengen menghimbau sampeyan hal yang agak sedikit berbeda. Hormatilah orang yang tidak berpuasa
Terutama bagi sampeyan-sampeyan yang berpendapat agak keras, mari kita kaji sama-sama; Salah satu esensi puasa adalah menahan hawa nafsu, menahan amarah yang timbul dalam diri. Kurang lebih begitu ya? Oleh sebab itu, jangan kotori puasa sampeyan dengan memandang sinis, apalagi nempelengi orang-orang yang tidak berpuasa, merusak warung-warung, atau tempat hiburan yang buka pada saat puasa, dan berpatroli ke tempat-tempat tongkrongan anak muda, dan membentak mereka untuk bertarawih.
Tidak, tidak, saya tidak melarang sampeyan buat berdakwah di bulan puasa, saya juga bukan setan yang memlintir hal-hal yang tidak benar menjadi benar dan sebaliknya. Saya juga Insya Allah berpuasa.
Saya hanya mengingatkan bahwa hal-hal yang demikian disamping mengotori puasa kita, juga malah menjadikan blunder, membuat sesuatu yang kita maksudkan sebagai dakwah malah berdampak negatif, membuat umat beragama lain tidak simpatik, dan kemungkinan membuat saudara-saudara seiman menjadi murtad. Kalau orang itu jadi murtad, sampeyan mau tanggung jawab?
Jadi buat saudara-saudara saya yang berpuasa, hormatilah saudara kita yang tidak berpuasa, seperti kita menuntut saudara-saudara kita yang tidak berpuasa untuk menghormati kita.
Marhaban Ya Ramadhan, selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalankan nya…
Sepotong Cerita Dari Yogyafree
Semalem, saya diajak temen saya Bernad “Dhoyok” ke acara syukuran ulang tahun ke 5 Yogyafree, (– forum/komunitas sekuriti online) sekaligus peresmian URL baru Yogyafree. http://xcode.or.id.
Ada beberapa cerita yang bisa saya bawa dari event semalem. Mulai dari hepi-hepinya, seminar nya Zae, salah satu staff Yogyafree yang masih sangat muda dan berbakat, tips dan trik membuat antena wifi murah meriah, sampek talkshow ndak genahnya, oleh pasangan staff Yogyafree yang kalo mau jujur, lebih mirip pasangan komedian Kadir dan Doyok daripada pasangan pakar sekuriti online.
Congrats buat Yogyafree di ulang tahun ke 5 nya, juga buat url barunya, yang sekarang berbuntut .or.id (keliatan lebih resmi sebagai organisasi hehe). Dan inilah hadiah saya. Sebuah ummm, apa ya? Review, Kritik, Katarsis, atau apa lah.
Apanya Yang Maju? Apanya Yang Jaya?
majulah… majulah… putra putri smu tujuh…
jayalah… jayalah… widya bakti taruna sejati…
ah t*ik lah!
buat yang mau protes, sebelum mbaor-mbaor saya jelaskan dulu yo? kalo saya tidak ada tendensi apapun buat menjelek-jelek kan almamater yang saya cintai.
saya bilang t*ik! cuma karena saya sumpah-kesel-banget sama adik-adik angkatan saya! kesel soal apa? saya ndak akan tulis panjang lebar. intinya kesel!
berotak udang, berhati ayam, bermental tempe. cuih!
p.s.
saya rela dikeluarkan dari Planet Seveners kalau tulisan ini sekiranya dianggap mengganggu.
Paid Review: Just IMHO
Dilarang sakit ati ya? Tapi ini cuma opini…
Sampeyan pernah tahu atau dengar yang namanya Paid Review, atau sponsored review? Mungkin pernah? Bagi yang belum, silahken googling googling dulu buat keterangan lebih lengkap.
Paid Review mungkin adalah cara termudah mendapatkan duit bagi blogger. Meskipun bukan terbanyak, tapi tercepat dalam opini saya. Bayangkeun, sekali nulis, bisa dibayar 15 dolar. Dan syaratnya, hanya pertahankan tulisan itu kurang lebih 30 hari. Mantep ndak tuh? Sehari bisa dibilang dapet passive income 50 sen, kalau dirupiahkan yaa, sekitar 5 ribuan lah! Saratnya? Yaa… Namanya paid review, reviewnya mesti ngikut ketentuan-ketentuan nya yang nge-paid dong!
Sampeyan berminat? Saya sih enggak. Karena paid review itu bisa dibilang membeli independensian saya, kejujuran saya (jujur aja masih belum sepenuhnya), dan mengganggu temen-temen saya yang sering menyambangi blog saya ini. Lha kok bisa begitu? Jadi begini…
Contreng Apelnya!
Ini bukan kampanye, tapi… Obrolan ndak mutu soal Apple, Mac OS, komunitas dan para pelatahnya!
Kali ini saya pengen ngomongin soal (lagi-lagi) oknum komunitas. Hahaha! Yang namanya oknum memang dimana-mana ada. Enggaknya pegawai negeri, polisi sampe komunitas pengguna komputer pun pasti ada yang namanya oknum. – oknum artinya apaan sih betewe?
Saya memang fans berat produk Apple Computer. Karena menurut saya, mereka membuat sesuatu itu secara almost perfect, flawless. Dan mungkin juga banyak orang yang sependapat dengan saya. Sehingga Apple banyak disukai orang, terutama bagi yang ogah pusing, ogah ribet dan pengen mendapatkan pengalaman out of the box yang baik. Hidupkan, langsung jalan.
Banyak diantara orang yang ogah pusing itu adalah profesional yang selalu membutuhkan pekerjaan nya bisa diselesaikan dengan komputer hampir tanpa memikirkan error di komputernya. Bertahun-tahun Apple dan Mac OS yang stabil itu menjadi andalan para profesional.
Dengan komputer yang bisa diandalkan, para profesional itu tak sedikit yang mendapatkan bayaran bagus karena produktifitasnya, dan akhirnya masuk kedalam golongan kaum mapan.
Dari sinilah masalah mulai terjadi, banyak yang beranggapan kalo orang mapan, punya duit pasti pakek Apple Mac. Dan muncul lah para newcomer-newcomer Mac yang bisa saya bilang MENYEBALKAN! Setidaknya dalam sudut pandang saya.
Bagaimana tidak menyebalkan? Banyak newcomer itu yang menyamakan membeli Mac sama dengan membeli BMW ato Mercedes di dunia otomotif. They buy the brand! Membeli merk, dan membeli gengsi kelas sosial, tanpa tahu, sebab musabab mengapa orang-orang mapan itu pakek Mac. Dan, tak berhenti sampai disitu, harga Mac yang terkesan lebih mahal turut menambah runyam suasana.
Jadi? Saya mengikuti salah satu musisi yang cukup kondang di Indonesia raya dan juga merupakan pengguna intens Mac untuk mencontreng Applenya. I don’t buy the symbol!
Pakek Mac? Gengsinya doong, gayanya doong! Ah t*ik lah!

