Sekedar Mengingatkan

"A person with ubuntu is open and available to others, affirming of others, does not feel threatened that others are able and good, for he or she has a proper self-assurance that comes from knowing that he or she belongs in a greater whole and is diminished when others are humiliated or diminished, when others are tortured or oppressed."

– Archbishop Desmond Tutu

Sekedar mengingatkan temen-temen pemakai Distro yang satu itu. Terutama yang… Yah… gitu deh :mrgreen:

Pakek distro itu bukan untuk keren-kerenan kawan! Dengan menginstall dan memakai distro itu di komputer sampeyan, tidak secara otomatis sampeyan jadi geeky cool. Apalagi kalau menyimpang jauh dari filosofinya. Tau lah apa yang saya maksud.

BTW ni, pada tahu khan siapa itu Desmond Tutu :)

Linux Mint 7: Gloria Sudah Rilis

Linux Mint 7 – Gloria sudah release tadi sore. Dengan semangat 45, Mas Kaboel pun mendownloadnya. Dan selesai dalam waktu 2 Jam.

Buat yang berminat mendapatkan kopian nya bisa langsung kontak-kontakan sama sodara beliau langsung, dan dirembug bagaimana enaknya.

Sekedar informasi, Linux Mint 7: Gloria adalah distribusi Linux yang berdasar pada Ubuntu 9.04 Jaunty Jackalope, dengan penambahan di sana-sini, terutama bagian multimedianya yang langsung manteb, dan juga interface yang lebih nyaman. Jadi, lebih cocok digunakan oleh orang awam seperti saya.

Berminat? Bisa hubungi Mas Kaboel untuk info lebih lengkap!

Linux Bagi Saya

Beberapa hari yang lalu, saya ngobrol-ngobrol dengan salah seorang teman saya, yang ahli soal serper menyerper. Ngobrol ngalor ngidul ndak jelas, mulai dari hal gak penting, sampai yang agak penting. Hal penting? Ndak ada blass! Lalu, sampailah obrolan kami pada soal linux melinux. Saya bertanya kepada dia, bagaimana caranya menstop automount pada desktop gnome di sistem Fedora Core. Dengan tanpa perasaan bersalah, dia bilang ndak tahu!

Lho? Ndak tahu? Kok isa? Kowe khan ahline soal sistem *nix? Jawab dia, wah, kang saya pakek windows, linux bagi saya adalah hitam putih, shell only, hanya pakek keyboard, ndak pakek mouse… Kalo soal linux yang bermouse, masih jauh dari nyaman. Wah rakacek dengan pendapat saya ternyata. Memakai linux untuk desktop sama juga dengan memakai Windows untuk serper. Bisa sih, tapi… Bukan ahlinya. :mrgreen:

Jangan bilang saya anti linux dulu… Saya pakek linux pada beberapa situasi, kami berkenalan sejak jamannya Fedora masih Redhat, SuSE belum open openan, dan mandriva masih mandrake, kayak nama pesulap. Bertahun-tahun berlalu dan kesimpulannya masih sama. Linux buat desktop? Bisa sih, tapi ndak se enak sang jendela ato si apel. Akhirnya, saya sarujuk dengan Imron teman saya. Linux bagi saya adalah text hitam putih, dioperasikan hanya dengan keyboard, dan ndak pakek mouse. :lol:

P.S.

Buat para militan linux, boleh protes sak karepmu!

Panduan Komplit OpenSUSE Indonesia

Sejak bersama Mas Kaboel saya memutuskan untuk mengurangi ketergantungan sama sistem operasi komersial, dan kami mencari alternatif OS yang geratis, pilihan jatuh pada linux, karena yahm belum cukup mumpuni untuk BSD ataupun NIX lainnya. Lagipula, kalo untuk desktop, sistem operasi NIX lainnya agak kurang masuk akal, terutama dukungan multimedianya :mrgreen:

Trus, setelah pilih sana sinim tersisa beberapa distro Linux sebagai kandidat yang pengen kami coba, antara lain ubuntu/kubuntu, OpenSUSE, Fedora, Slackware dan Mandriva atau turunannya. Dan akhirnya, kami pilih OpenSUSE. Kenapa? We Love Green :mrgreen: –alasan yang aneh–

Bukan… Bukan itu yang utama. Meskipun kami suka warna ijo, tapi yang jelas, saya sendiri dulu pernah pakai SUSE dan Redhat. Jadi mungkin sedikit bisa membantu. Nah karena Fedora –turunan Redhat– agak ribet setting repository nya, maka setelah coba sana sini, akhirnya diputuskan pilihan jatuh ke OpenSUSE? Kenapa gak ubuntu yang sudah kondang? Well, Mas Kaboel yang bisa menjelaskan kenapa kurang suka dengan distro itu –ndak saya ekspose disini–

Weleh, malah jauh menyimpang dari judul ki kepriye? Lha bingung mau nulis apa. Masak cumak dikasih link thok :mrgreen:

Jadi begini. Inilah panduan lengkap OpenSUSE berbahasa Indonesia yang disusun oleh Komunitas OpenSUSE Indonesia:

Panduan – Komunitas OpenSUSE Indonesia

OpenSUSE Zypper Tutorial

Zypper adalah command line package manager, sejenis yum di Fedora atau apt-get di debian dan turunannya fungsinya untuk meng handle package software di OpenSUSE. Zypper mulai dikembangkan pada OpenSUSE 10.2 dan mulai banyak digunakan pada versi OpenSUSE 10.3

Nah, untuk tutorial zypper selengkapnya, bisa dilihat di panduan zypper komunitas opensuse Indonesia