Lakukah Idealisme Saya?

Beberapa waktu yang lalu, saya memindahkan blog saya ini dari satu perusahaan hosting yang selama ini saya anggap cukup baik, ke sebuah perusahaan hosting yang lain, karena satu dan lain hal.

Dalam perpindahan itu saya banyak melakukan pencarian. Dan akhirnya menemukan sebuah perusahaan hosting yang mempunyai service level agreement yang luar biasa. Sesuai dengan yang saya mau. Sesuai idealisme saya bagaimana seharusnya perusahaan hosting itu. Mereka bahkan bakal mengembalikan sebagian biaya hosting saya ketika server mereka down lebih lama dari seharusnya. Lebih dari setengah jam untuk kegagalan non hardware, dan dua jam untuk kegagalan hardware.

Orang jawa bilang, ana rega ana rupa. Ada harga ada bentuk, kurang lebih nya begitu. Perusahaan itu tidak menyediakan paket “murah”. Di perusahaan itu bahkan tidak menyediakan shared host, atau reseller host. Hanya VPS dan dedicated server. Selain saya rasa berat, saya juga merasa kalau cuma buat saya sendiri tentunya akan mubadzir. Jadilah saya meyakinkan, kalau gak boleh dibilang memaksakan kehendak :mrgreen: ke beberapa orang untuk bareng bareng saya pindah host. Orang-orang sial yang saya paksa itu adalah Bernad, Andro, dan Mas Dapit juragan domain kita. Dengan setengah sungkan mereka meng iyakan ajakan saya. Jadilah kami ngekoskan situs kami disitu.

Setelah beberapa lama kami memakai, ternyata masih sisa banyak banget sisa resourcesnya — sayang sekali kalau tidak digunakan– . Maka kami memutuskan untuk membagi resources sisa tersebut. Menjual kembali lebih tepatnya, karena diantara kami, tidak ada yang dalam kondisi berlebih, jadi istilahnya kurang rela kalau membagi-bagikannya secara gratis, atau nombok dengan menjualnya secara murah :mrgreen:

Saat ini, rencana menjual kembali resources sisa kami masih dalam tahap persiapan. Selain kami tes sendiri, kami juga mengundang beberapa tester seperti Linggar dan Kang Hielmy. Dan sampai saat ini, tanggapan mereka cukup bagus, atas kinerja sang server.

Yang jadi pertanyaan selanjutnya adalah –selain nama hostingnya apa– adalah kira-kira, idealisme yang mesti terbayar agak mahal ini laku? Sekedar sneak peek, kira-kira bakal begini tawarannya:

  • 256 MB space
  • 5GB bandwidth transfer
  • 5 addon / park domain
  • 10 MySQL
  • cPanel (belum fantastico)
  • SSH tersedia via request
  • Tidak oversell
  • Jaminan uang kembali 5% per jam apabila down lebih dari 2 jam

Bakalan mesti dibayar dengan 15 – 25 ribu sebulan. Sementara beberapa hosting (yang ada diantaranya milik teman sendiri juga) dengan harga yang sama menawarkan 4 X space dan bandwidth lebih banyak, tak ketinggalan fitur yang serba unlimited?

How do you think friends?

Menyoal RUU TIPITI

Pagi ini, beberapa teman saya diramekan oleh berita yang bisa dibilang agak lama beredar, namun belum juga saya ngeh untuk mmembicarakannya. Berita itu adalah soal RUU TIPITI atau tindak pidana TI (teknologi informasi).

Menurut beberapa “geek” dalam hal sekuriti online yang kebetulan mau jadi teman saya, pasal pasal dalam RUU itu banyak yang ndak masuk akal. Salah satunya adalah ancaman hukuman mati yang ada di Pasal 9.

Pasal 9
Kejahatan terhadap nyawa dan keselamatan negara

Barangsiapa dengan sengaja dan melawan hukum memanfaatkan Teknologi Informasi dengan maksud untuk menghilangkan nyawa, harta benda orang lain, atau mengakibatkan kerusakan atau kehancuran obyek-obyek vital dan strategis atau lingkungan hidup atau fasilitas umum atau fasilitas internasional, usaha menggulingkan pemerintahan yang sah, atau membahayakan keamanan negara atau untuk memisahkan sebagian dari wilayah negara atau sebagai bagian dari kegiatan teror kepada orang atau negara lain, dipidana dengan pidana mati atau penjara seumur hidup atau pidana penjara, paling singkat 10 (sepuluh) tahun dan paling lama 20 (duapuluh) tahun .

Nah lho. Sumir khan? Ada juga di RUU itu bahwa memalsukan IP address atau identitas di dunia maya terancam dengan hukuman dan denda yang ndak kalah fantastisnya. UU ITE? lewaaat! :mrgreen:

Terus apa yang bisa kita lakukan sebagai penggiat dunia internet. baik itu blogger, podcaster atau apalah? Ya sementara cuma bisa mengawal bagaamana kelanjutan penggodokan RUU TIPITI ini. Makin beres, atau makin ancurrr :mrgreen:

Saya cuma bisa menghimbau, agar kita, para pengguna internet selalu memperhatikan segal hal perkembangan peraturan negara yang berkaitan dengan dunia internet. Sebab kalau bukan kita, siapa lagi?

Sebagai bahan saja, ini saya ada draft RUU TIPITI dan tinjauan akademiknya. Silahkan di download dan dipelajari. Mungkin kita bisa berdiskusi lebih jauh.

Hidup Tanpa Uang

Mark BoyleBisa ndak kita hidup tanpa uang? Saya sendiri masih sangat meragukannya. Tapi Mark Boyle (30) telah membuktikan bahwa dia bisa hidup tanpa mengeluarkan uang sepeserpun selama setahun.

Mister Boyle ini bukanlah orang nekat. Juga bukan orang yang ndak paham soal ekonomi. Pria kelahiran Irlandia ini adalah seorang sarjana ekonomi.

Untuk hidup tanpa mengeluarkan uang sepeserpun. Mister satu ini mendaur ulang semua yang mungkin. Menanam bahan pangan sendiri di rumahnya. Telpon nya hanya untuk menerima panggilan saja. Semua tenaga listrik yang dia butuhkan, berasal dari tenaga surya. Dia mendapatkan pakaian-pakaian bekas dari kelompok pendaur ulang, dan menggunakan koneksi internet gratis yang tersedia di lingkungan sekitarnya.

Memang, Mister Boyle tidaklah benar-benar hidup tanpa uang. Toh dia juga masih butuh uang untuk beli laptop dan beberapa pembangkit listrik yang ia gunakan. Tapi toh dia sudah setahun hidup tanpa mengeluarkan uang. Mau meniru?

Baca selengkapnya di The Guardian

Polri Gak Butuh Masyarakat, Katanya…

Polri ndak butuh masyarakat, katanya… Trus yang protes itu ndak tahu hukum. Katanya lagi…

polri-tidak-butuh

Nah lho… Sebenere saya pengen marah, tapi ndak ada gunane, pengen ndebat juga susah kalau kapasitas otaknya beda :mrgreen: — saya terlalu bodoh untuk mendebat Mas Evan Brimob itu. Saya khan cuma orang yang gak tahu hukum. Jadi saya serahkan saja lah pada yang pinter-pinter untuk menilainya. Tapi ya, saya cuma berharap, semoga saja memang itu hanya oknum. Semoga saja tidak di orientasikan demikian dalam pendidikan nya.

Oh iya, pagi ini rame banget buku tamu Polri yang mengutuk itu Mas Brimob. Kurang tahu lah bagaimana kelanjutannya.

Sumber: pengaduan di jogja.polri.go.id

Selamat Ulang Tahun bocahmiring.com

Hai. Gak kerasa sudah setahun blog saya memakai alamat bocahmiring.com. Setelah sebelumnya memakai berbagai macam platform dan domain. Mulai dari blogspot, multiply, hosting gratisan, wordpress.com dan akhirnya memutuskan untuk membeli domain dan memasang wordpress yang selfhost.

Banyak terima kasih buat Mas Dapit yang sudah dengan baik hati bersedia ngutangin saya domain, juga buat temen-temen yang dengan relanya singgah dan memberi komentar di blog yang sangat ndak mutu ini.

Pencapaian dalam setahun ngeblog di tempat yang bisa dibilang settle ini? Sepertinya tidak ada :mrgreen: . Demikian juga roadmap mau diapakan blog ini kedepannya. Personal branding? Atau menjadikan blog ini menjadi sesuatu? Belum kepikiran tuh. Pokoknya nulis apa yang saya seneng saja :)

Sekali lagi buat Mas Dapit, penyedia host saya, dan terutama buat temen-temen yang sudah bersabar meluangkan waktu di blog saya ini, matur tengkyuuu!

M. H.

Apa Itu Blogger? Dan Pencarian Saya Berlanjut

Selamat hari blogger sodara-sodara. Meskipun sekian lama saya bingung akan arti daripada blogger atau narablog itu sendiri.

Di hari istimewa ini, Bung Pitra sebagai salah seorang blogger ngetop negeri ini, sekaligus kandidat manusia kursi Pesta Blogger 2010 :mrgreen: membuka sesi tanya jawab mengenai per bloggingan. Dan kesempatan ini saya gunakan untuk menanyakan pertanyaan saya yang sudah lama menggelayut di hati :lol:

Oke, kira kira begini yang saya tanyakan:

apa itu blogger? Apa ada syarat lain jadi blogger selain mempunyai blog? [link]

Dan beginilah jawaban beliau:

  1. blogger = yg menulis blog (di tumblr, blogspot, wordpress, dagdigdug, host sendiri) dlm format bertanggal n berkomentar. [link]
  2. perasaan gak ada syarat lain seseorang utk menjadi blogger kec dia punya alamat blog (yg harapannya tentu diupdate selalu). [link]

Dengan begitu, sepertinya saya mulai bisa memberanikan diri saya untuk bisa disebut blogger. Meskipun pada kenyataan sehari-harinya saya merasa agak kurang pantas disebut blogger. Dan mungkin menurut beberapa pihak memang begitu :)

Oh iya, sebagai bonus, –entah serius entah becanda entah sinis, saya kurang tahu, karena saya pribadi tidak begitu mengenal beliau– begini kata Mas Iman Brotoseno soal blogger:

Apakah saya seorang blogger? Saya lebih suka kalau dibilang blogger wannabe :)

Selamat Berpesta

Selamat berpesta para blogger. Have a great time ya? Jangan berantem kaya tahun kemarin lagi.

Buat yang mayoritas, jangan pinggirkan yang minoritas. Pokoke jangan ngeksklusip.

Oh ya, maap kalau gak dateng buat yang ke tiga kalinya. Disamping karena belum berani disebut blogger, takut nanti kayak anak hilang disana, tahun ini juga lagi sepi order :mrgreen:

Badkiddies, Indonesia Unite, Dan Common Sense

Beberapa hari yang lalu, ada rame-rame soal website #indonesiaunite yang di deface oleh badkiddies. Tentu saja para penggiat Indonesia Unite, yang setidaknya aktif di web itu pada kebakaran jenggot. Kok bisa-bisanya website perjuangan di deface. Oleh bangsa sendiri lagi. Kira-kira gitu kali ya yang ada di pikiran para penggiatnya.

Dan kebetulan, waktu itu, twitter nya Pandji di take over oleh seseorang. Tambah ngamuk-ngamuk lah para penggiat itu. Mengingat Pandji adalah salah satu ikon mereka.

Orang bijak bilang, hati boleh panas tapi kepala mesti tetep dingin ada benarnya juga. Dalam kasus kemarin, mungkin beberapa teman-teman disana agak kurang dingin kepalanya. Kebawa hati yang panas mungkin, sehingga boleh dibilang malah membuat kasus nya ndak karu-karuan, dan kalau boleh saya bilang, beberapa cukup menggelikan.

Mulai ada yang salah sangka kalau Masdapit adalah badkiddies sampai, ada yang berpendapat kalau itu kerjaan nya salah satu twitter user group yang iri karena kalah tenar. Oh my… Where’s their common sense?

Lesson learnt: dinginkan kepala sebelum melakukan sesuatu, terutama kalau kita adalah orang yang cukup didengar orang lain. Common sense first kawan!

All Hail The Dark Lord

Siang tadi, lewat YM saya ditanya. Apa saya kenal dengan Ketua nya @jogtug, dan saya pun bingung mesti menjawab bagaimana. Lha wong @jogtug itu lebih seperti jaringan, tidak seperti komunitas pada umumnya yang mempunyai so called “Dark Lord” yang mengampu, mengatur dan mesti menyetujui semuanya. Alhasil, saya jawab saja, silahkan kontak melalui web nya. Dan tampaknya jawaban saya kurang memuaskan beliaunya, karena tidak dapat menemukan orang yang tepat :mrgreen:

Fenomena “Dark Lord” ini sudah seringkali saya temui di berbagai komunitas. Baik itu komunitas so-called hacker, blogger, pecinta motor, dll dll. Umumnya, founder, early adopters, atau orang yang banyak menguntungkan komunitas itu lah yang nantinya muncul menjadi figur “Dark Lord” yang memegang semuanya.

Jadi, saya kira wajar kalau sampai ada orang yang berpandangan kalau komunitas itu mesti ada yang “megang”, termasuk orang yang bertanya pada saya tadi siang, yang tampaknya mau ada urusan penting sama

Yang Penting Merknya Bung!

Iseng-iseng saya tanya sama temen saya. “Mas, PDA-Phone Samsung kayak gini kalau dijual berapa ya? Ada kamera 2MP, bisa wifi juga” Dan temen saya bakul hape itu bilang. “Wah yang tipe ini, paling kalau full ya paling tinggi dua belas, kalau batang ya 600 lebih, dibawah satu” Trus saya lanjut tanya. “Lha kalo Nokia 6600 batangan ponakan saya ini berapa? Lebih murah ya pastinya? Wong sudah udzur banget gini”. Dan temen saya sang tukang hape pun bilang “Casingnya masih ORI ni, 600 saya mau” Saya: “!@#$%^&*”

Read more

Next Page »