Beberapa hari ini, saya sedang berada di puncak kesulitan. Kesulitan saya sebenerya sudah dimulai beberapa bulan yang lalu. Berawal dari deal bisnis yang buruk, dan berujung pada wanprestasi. Sehingga saya dituntut (meskipun cuma secara moril) untuk membayar ganti rugi kepada pihak-pihak tertentu.
Dengan berbagai cara dan jurus, saya kurangi sedikit-sedikit kesulitan saya. Kalaupun tidak bisa, setidaknya bisa saya undurkan temponya. Sampai akhirnya saya berada pada titik benar-benar kesulitan untuk menyelesaikannya.
Dan sinyal SOS pun saya kirimkan pada beberapa teman yang saya anggap karib. Ada yang membantu, meskipun saya tahu teman itu juga sedang mepet, ada yang berbela sungkawa dan ada juga yang kadang membuat joke, yang membuat saya sejenak melupakan beban yang alamak jang beratnya… Dan ada juga yang mengacuhkan saya.
Saya, mungkin terlalu rendah untuk mendapatkan penolakan. Sekedar untuk mendapatkan jawaban tidak, atau penghardikan. Urus sendiri masalahmu! Jangan libatkan saya! Bahkan ketika sudah tiga kali saya meminta bantuan, dan tidak saya hargai cuma-cuma bantuan itu.
Ah, sudahlah… Saya ndak akan meminta lagi. Anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu. Cuma, diposisi ini, saya anjingnya. Kalaupun toh saya sudah menggonggong sekuat tenaga, dan sang kafilah tetap berlalu, buat apa saya tetap menggonggong? Buang-buang energi!

keep semangat bro
tak bantu doa dah
semangat pak boz… lanjutkan hidupmu….
Bagus bro………….mang begitu emak aye jg ngajarinnya,
sabar wae..
seru kalo blog sebelah nulis: SUDAHLAH ITU BUKAN URUSAN SAYA nek tenan aku gelem melu ngantemi mid
Woh woh woh syech kaboel anarkis! Mesti mergo wong timor e… Dadi anarkis ngunu!
orang sabar disayang tuhan mid…
sing sabar yo cah bagus!
sabar disayang wanita
@bernad
kusus kowe sabar disayang mance