Beneran Gratis?

Free software alias gratis. Tidak cuma soal OS, tapi sopwer pada umumnya. Is that free-thingy really free? Hm… Coba kita liat sama-sama, pake kepala yang adeeeemph.

First thing first, free software, yang umumnya berupa open source, dikembangkan oleh sebegitu buanyak programmer, dan terkadang idealis. Nah, idealisme ini terkadang bentrok satu sama lain, sehingga terkesan kurang kompak dalam pengembangan, dan kurang terarah setidaknya dilihat dari sisi user biasa seperti saya. Misalnya, saya bisa menemukan banyak sekali software untuk satu kebutuhan tertentu, tapi untuk beberapa kebutuhan, bertahun-tahun dicari juga belum bisa ditemukan. Banyak alasannya, mungkin karena masalah idealisme hak cipta, atau keminatan programmer yang kurang terhadap masalah itu.

Programmer oriented, bukan user oriented. Kebanyakan free software itu, dikembangkan oleh programmer independen, bukan oleh sebuah tim yang dilengkapi dengan tester dan QA untuk menguji kemudahan program itu, jadi kalo agak sedikit ribet ya harap maklum. Dan terkadang, sang programmer yang juga manusia, kalo giliran pas dikritik soal ribetnya program dia, dan dianya lagi bad mood, terkadang muncul jawaban yang singkat, tepat, jelas dan padat. Sudah dikasih gratis, protes!

Almost zero support. Do it at your own risk. Dengan tidak adanya support yang jelas disediakan oleh pihak mana, tentunya merepotkan ya? Memang ada community support atas program itu, tapi mungkin jawaban yang diharapkan tidak secepat dan tidak semudah software berbayar. Terkadang dapat jawaban RTFM ataupun STFW. Hihihi…

Butuh banyak waktu, tenaga dan mungkin biaya. Dengan tidak adanya kejelasan support, dan hasil program yang kurang user-oriented tadi. Untuk menggunakan software itu, kita harus berusaha mengerti jalan pikiran sang programmer, bukan sang programmer yang mencoba mengerti kita. Jadi, harus banyak belajar, yang tentunya sangat memakan waktu dan tenaga, dan juga biaya, untuk bayar koneksi internet, kursus atau mbawain rokok untuk konsultasi ke teman yang lebih paham misalnya…

Jadi? Beneran gratis? Secara lisensi memang, tapi secara biaya yang dikeluarkan, saya berani bilang kalau free software itu tidak benar-benar gratis. Lha terus? Apa baiknya kita beli saja software-software yang kita butuhkan? Tergantung situasi laah.

Kalo harga software itu reasonable, dan kita bener-bener orang yang bisa menghasilkan uang dengan waktu kita, saya sarankan beli saja software komersial yang tidak merepotkan dibanding dengan yang free. Misal untuk OS, bisa beli Mac, yang sudah preloaded Mac OSX disetiap unitnya yang dijual, atau mungkin beli MS Windows paket termurah, seperti Windows XP Home atau Vista Home. Buat yang fanatik linux, mungkin bisa beli Mandriva PowerPack, RedHat Linux, atau SLED/S (—suse linux enterprise desktop/server). Langsung bisa dijalankan dengan relatif mudah, murah, ada supportnya pula.

Masalahnya, seberapa produktifkah kita dengan pengeluaran uang untuk software yang kita butuhkan itu. Terutama, untuk software-software yang dibandrol dengan harga semahal  gambreng. Harus ditimbang masak-masak dulu, kecuali kalo sampeyan miliuner. Coba bayangkan, Sekitar Rp. 4,7 juta untuk MS Windows Vista Ultimate, Rp. 7 Jutaan untuk Photo Editor sekelas Adobe Photoshop. Dan Alhamdulillah, cuma Rp. 38 Juta untuk software CAD semacam AutoCAD. Dan untuk server? Saya pernah tahu sebuah perusahaan di Solo mengeluarkan Rp. 40 Juta untuk OS servernya.

Jadi, timbang baik-baik untuk beli. Juga timbang baik-baik untuk menggunakan free software, seberapa berhargakah waktu, tenaga dan pikiran kita, dan seberapa butuhkah kita akan support dari si pembuat software. Karena, pakek free software, atau software komersial, atau bahkan nyaingi Pak Tani dengan mencangkul, itu pilihan, beserta dengan segala buntut resikonya…

About Hamid

Job seeker by the day. Superhero by the Night.
This entry was posted in Opini and tagged , , , . Bookmark the permalink.

13 Responses to Beneran Gratis?

  1. OvErDoNgO says:

    mandriva yang free reponya 800 ribu hahahha…
    paling enak linux mint, repo njalok kabol arepo gak komplit

  2. bocahmiring says:

    weh, mint kui donlode setaun lho. sejak desember 2008 sampai januari 2009 :mrgreen:

  3. Imam Syatibi says:

    mesti donlote pas aher taon :mrgreen:

  4. wha klo saia ndak kuat klo harus beli software CAD asli..

    hohohohoho

  5. Fuad says:

    Ya awoh
    aku nduwene mung sing b*****n :mrgreen:
    rung kuat nuku lisensine

  6. Boringday says:

    Pertamax
    aku yo ra kuat
    maap kalo saya masi pake bajakan

  7. ngahahha…

    do kere kabeh jebule..

    klo saia sih cm ada bbrp software dengan lisensi asli

    salah satunya yg mahal tuh Acunetix 5..
    :D

  8. bocahmiring says:

    Indonesia khan negara agraris ya? jadi cukup lazim lah soal mencangkul dan membajak. coba kurs kita ndak selemah ini, mungkin sedikit sedikit kebeli tuh sopwer asli…

  9. m.dede says:

    :-) , satu keluarga dengan Ubuntu & debian , kalau untuk Corporet sebaiknya menggunakan yg Full Supoort seprti SuSE dan Rhel untuk OS linuxnya , unutk applikasi Erp compiere sepertinya ada support Profesionalnya ,

  10. bocahmiring says:

    yuuk. semua itu tergantung situasi kondisi toleransi pandangan dan jangkauan (–jangan disingkat) di tempat kita mau set up… thx for visiting back Mas Dede…

  11. Topanz says:

    wkwkwk,muahale…tp kyke sik free lbh asik..kalo OS yg paling murah itu biasane cuma buat sekali pakai to mas?haduh..lha diindo itu gudange virus,nanti bisa tekor..

  12. bocahmiring says:

    sekali maksude satu workstation, instal ulang berkali-kali juga boleh, asal gak ganti motherboard ato prosesor. kalo ganti, mesti minta kode aktivasi lagi dan menjelasken alesan gantinya.

    soal free, asik ndak asik sih. tergantung situasi…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>