Saya Penganut Islam Liberal

Inilah pengakuan dosa saya. Kalau toh menjadi muslim liberal itu adalah dosa bagi pandangan beberapa orang.

Saya, dibesarkan dalam keluarga NU, keluarga dari pihak bapak saya, banyak juga yang menjadi Kiai NU. Lalu, kenapa saya jadi “pemberontak”? Syahdan, begini ceritanya.

Saya, capek dengan ekstrimisme dalam islam, yang mengarah kepada penyerangan umat atau golongan lain seperti yang banyak dipraktekkan oleh saudara-saudara kita di FPI misalnya. Tapi, ormas keagamaan semacam NU atau Muhammadiyah, tidak banyak berbuat untuk mengclearkan masalah yang menurut pandangan saya, membuat citra islam jadi kurang baik. Justru JIL nya Mas Ulil yang menurut saya banyak bereaksi. Inilah awal mula ketertarikan saya.

Terus, kelanjutannya begini. Menurut saya, orang-orang JIL menjalankan islam yang menyejukkan. Seperti, menganggap kalau mengucapkan selamat natal itu tidak apa-apa, selama tidak ikut misa atau ibadatnya. Hmm… Cukup fair menurut saya. Berbeda dari beberapa pihak yang malah mengharamkan sama sekali mengucapkan selamat hari raya kepada agama lain. Ah, sama sekali tidak masuk akal dan nurani saya. Terutama ketika umat beragama lain malah ikut gembira atas idul fitri saya, dan mengucapkan selamat teriring senyum di wajah mereka.

Saya akui, banyak juga aktifis Islam Liberal yang bisa dibilang memajukan akalnya, sehingga sering terkesan kemlinthi, mempertanyakan tafsir Qur’an dan Hadist, yang sudah terbilang mapan. Well, nobody is perfect. Setidaknya dari satu sudut pandang tertentu.

Yang saya ndak paham, kenapa Islam Liberal ini banyak yang mlintir ya? Pernah suatu ketika, Mas Ulil cerita. Ada yang ngrasani ketika dia sholat. Lho, Ulil kan Liberal, kok sholat? Mendengar cerita itu, saya prihatin bercampur geli. Karena, sepanjang pengetahuan saya, bagaimanapun Islam Liberal itu, tetap memakai kata islam, dan liberalisme yang diusung disini tentu saja masih dalam kerangka islam. Jadi ndak akan ngutak-atik rukun islam itu. Bagaimanapun kami tetap bersyahadat, menjalankan sholat, zakat dan haji bila mampu.

Lalu siapa yang mlintir? Atau mereka saja yang memandang secara berbeda? Entahlah. Yang jelas, sampai sekarang, islam liberal, sekali lagi, islam yang berpandangan liberal yang diusung Mas Ulil dan kawan-kawan JIL adalah yang paling cocok dengan akal dan nurani saya.

*comments are welcome*

About Hamid

Job seeker by the day. Superhero by the Night.
This entry was posted in My Life, Opini and tagged . Bookmark the permalink.

19 Responses to Saya Penganut Islam Liberal

  1. Imam Syatibi says:

    secara mbak mega: no comment :mrgreen:

  2. wakakaka says:

    Memang benar tentang umat islam di masa mendatang akan terpecah pecah. Nah sekaranglah buktinya, banyak aliran2 islam yang tersebar diseluruh dunia.

    Mana yang benar? Mana yang salah?
    Mung gusti Allah sing ngerti
    tp yang jelas Islam itu cuma 1, agama yg dbawa oleh rasululah.

    *komenku lumayan dowo yo, doh blogku ra apdet2*

  3. wakakaka says:

    @Imam
    selain mbak mega, artis desi ratnasari juga mempopulerkan kata no komen

  4. bocahmiring says:

    @bakule sempak

    wah, kalau saya mana yang cocok sama hati dan otak saya saja :)

  5. Noe says:

    kalau saya sih, yang saya pegang cm 2. Al-qur’an n hadits… :D saya mau bkin kumpulan juga ah….

    JIC alias Jamaah Islam Cihuiiiiii :P

  6. bocahmiring says:

    wa itu dalam kerangka islam jeng. kalo dah ndak pake Qur’an Hadits apa ya wangun dinamakan islam :?:

  7. nun1k04a says:

    Promosikan artikel anda di http://www.infogue.com. Telah tersedia widget shareGue dan pilihan widget lainnya serta nikmati fitur http://www.infogue.com/info/cinema/& http://www.infogue.com/game_online & http://www.infogue.com/kamus untuk para netter Indonesia. Salam!
    http://agama.infogue.com/saya_penganut_islam_liberal

  8. Si Idiot says:

    Saya sih di tengah. Saya gak suka terlalu ekstrimis maupun liberal :)

  9. Kang Nur says:

    Islam Warna-Warni :) Itu saya hargai apa yg dulu pernah dibawa Ulil cs lewat iklan di TV itu, dan saya sepakat. Kemajemukan di antara elemen2 orang Islam sendiri harus diakui dan dihargai sbg fakta kenyataan. Tidak usah pesimis dan lalu mengambil dalil sabda Rasulullah saw bahwa umat Islam akhir jaman akan terpecah sbg dasar utk pesimisme dan saling mencurigai. Itu malah fatalis.
    Saya anak guru, cucu brayat lurah desa abangan, lingkungan abangan. Bapak saya ikut kumpulan Muhammadiyah, saya juga punya NBM; tapi kami dekat dan rukun serta takzim dgn bapak2 Kyai NU yg juga adalah guru2 kami.
    Saya kira NU dan Muhammadiyah adem2 saja krn fenomena liberal/radikal mmg baru di lingkup kota, sedangkan di desa fenomena itu masih belum mjd prioritas utk ditanggapi.

    Ber-Islam adalah proses. Maka misal saya kini liberal, bisa saja besok menjadi fundamental, lalu besoknya lagi menjadi radikal, lalu liberal lagi; begitu ber-siklus scr wajar dalam proses jalan hidup yg kita lakoni. Apalagi, bukankah istilah2 itu adalah buatan pengamat. Kita yg menjalani, ngapain peduli omongan pengamat? …
    Namun sbgmn yg pernah saya terima dari seorang sosiolog: menjadi fundamental lebih dulu itu memang menjadi dasar yg diperlukan. Menjadi radikal-ekstrem atau liberal, bila tidak didasari mjd fundamental dulu; jangan2 cuma ikut2an dgn sesuatu yg tidak dipahami. Ya, seperti kemlinthi itu-lah. Saya anggota ‘Pemuda Muhammadiyah’ tapi tidak suka dgn Zuli Qodir JIMM yg saya nilai memang kemlinthi!

    Wah koment saya panjang.
    Nanti saya akan bikin tulisan pingback saja utk melanjutkannya. Saya tertarik topik ini. Trims. :)

  10. bocahmiring says:

    Hidup Kang Nur! Saya kira Kang Nur jauh lebih kaya pengalaman spiritual dan reliji nya.

    Sementara itu, iklan islam warna-warni itu salah satu yang membikin darah aktifis Islam Liberal dihalalkan oleh beberapa pihak. Lho :?:

    Ya begitulah…

    *mijeti pundak Kang Nur biar mengulas lebih dalam dan mangstab*

  11. kaboel says:

    bukan karena pernah dkt dgn mi***naris kan maz :-D

  12. A.R.Hadi says:

    Maaf,saya yang awam ini cuma mau berbagi pendapat: Saya setuju extrimisme punya banyak dampak buruk apalagi kebablasan dan gak bersyariat. tentang FPI setau saya hanya menyerang tempat2 maksiat yang nyata2 juga bertentangan dgn hukum dinegara kita dan hanya sering bertabrakan dgn kaum preman yang membekingi tmpt2 tsb, terutama pada bulan2 Ramadhan. yang mendasari adalah sikap kepolisian yang tidak tegas dan bahkan sering kali ada oknum petugas yang ikut membekingi.padahal mestinya itu tugas mereka unt menertibkan,tdk terkecuali peristiwa monas,karena nyata2 Ahmadiyah memang sesat dan telah ada Fatwa MUI. keberadaan JIL yang membela mereka justru rancu meski lagi2 dgn dalih kesetaraan dan HAM,seolah-olah Islam itu membelenggu kebebasan berpendapat dan tdk toleran padahal jelas2 itu kasus penghinaan dan penodaan agama, hingga terjadi bentrokan mmg karena adanya provokasi meski beritanya masih simpang-siur .
    Mengenai ucapan selamat Natal,esensinya jauh lebih serius drpd sekedar ramah-tamah,.. karena ada do’a disitu,bahkan ada Hadist mengenai Rasulullah SAW. yang ditegur ALLAH SWT karena mendoakan paman yang memelihara beliau,memohonkan pengampunan baginya yang mati dlm keadaan musyrik. Dgn mengucapkan selamat berarti anda turut berbahagia dan membenarkan perayaan tersebut,yaitu kelahiran Yesus yang mereka anggap Tuhan,padahal menurut ahli sejarah dan para peneliti bahkan tidak ada bukti dan sandaran secuilpun tntg klaim waktu kelahiran yesus tsb bahkan tidak dlm bible. melainkn hanya kebiasaan perayaan agama dari para penyembah api seblm mereka.
    memang,nobody’s perfect.. diantara manusia yang gak sempurna paling sempurna diantaranya adalah Rasulullah SAW…kenapa gak ikuti ajarannya spt yang diperintahkan ALLAH? drpd bingung2,kalau niatnya cari kebenaran,bukannya cari yang sesuai selera, ya kembali aja ke Al-Qur’an & Hadist.. habis perkara..!!
    uups..jadi gue nih yg plg pnjg…sorry.

  13. bocahmiring says:

    Pak/Mas Hadi,

    Thanks sudah memaparkan pandangannya yang Mak Nyuss. Soal kekerasan, saya no komen. Ya begitulah… Soal ahmadiyah, tidak semua ahmadiyah seperti itu lho. Ada kelompok dalam ahmadiyah yang menganggap Mirza Ghulam Ahmad itu hanya wali. Soal yang menganggap beliau nabi tetap saya bela, saya pribadi membela dari sisi kemanusiaannya saja. Bagaimanapun, saya ndak rela ada manusia yang digepuki semena-mena. Saya pribadi juga ndak sarujuk soal adanya nabi/rasul setelah Muhammad SAW.

    Hmm, soal pengucapan selamat natal saya melihatnya dalam konteks sosial saja. Saya percaya, inna mal amalu bin niyah (maaf kalau tulisan latin nya salah), semua itu tergantung niat kita. Dan menurut pertimbangan saya pribadi, dengan tidak mengharamkan nya, sekaligus bisa mempromosikan, bahwa orang islam itu tidak terkesan angkuh. Soal turut berbahagia saat umat lain berbahagia, apa salahnya? Soal mengakui, atau mendoakan, tidak bisa digeneralisir semudah itu. Tiap orang mempunyai maksud dan tujuan yang tidak bisa digeneralisir juga kan?

  14. bocahmiring says:

    Aduh, kelupaan. Soal Qur’an dan Hadits, saya kira semua “aliran” (saya gunakan kata itu untuk menyederhanakan nya saja) dalam islam pasti kembali pada Qur’an dan Hadits. Perbedaan yang terjadi adalah cara tafsirnya saja. Saya yakin, ndak ada islam yang tidak bersumber pada Qur’an dan Hadits. Jadi, ajakan kembali pada Qur’an Hadits itu, Insya Allah, sudah dilakukan semua umat islam, sepanjang yang saya tahu. Saya belum pernah menemukan umat islam yang ndak pakek Qur’an, dan ndak percaya Hadits.

    Btw, thanks sudah mampir ke gubug penceng saya.

  15. KEBEBASAN says:

    saya anggap kamu BODOH…..!!!!!,kembalilah pada ajaran yg benar.

    itu hak saya, kalo pendapat saya itu bebas saya ucapkan. kalo tersinggung…, saya hargai. kalo saudara marah saya juga hargai kemarahan saudara…,

    kebebasan adalah seperti itu…., kita berhak menentukan pendapat kita. kalo gak setuju sdr sama saya, itu hak saudara….

    BEBAS KHAN……, he..he..he…

  16. bocahmiring says:

    santai mas/mbak. terbukti komen sampeyan tidak dimoderasi :mrgreen:

    saya juga bebas dong bilang situ ndak mutu… kebebasan yang sampeyan ungkapkan melanggar kebebasan saya.

    kenapa saya berada di jalan yang salah? sampeyan menjudge saya tanpa alasan. kalau salah, tolong dibenarkan.

    tapi, komentar penilaian tanpa dasar yang sampeyan ungkapkan, bagi saya, hal itu hanya mengarah ke kebencian.

    freedom of speech please, not hate speech :)

  17. karmini says:

    untuk sekarang terserah anda mengira pandangan anda adalah yang paling realistis, paling baik, atau paling benar menurut otak anda,itu monggo……,tapi sebelumnya anda renungkan…, yang terbaik menurut kita belum tentu yang terbaik menurut ALLAH..dan kalau dunia ini berjalan sesuai aturan akal manusia untuk apa ada utusan ALLAH ,,kitab ALLAH , atau surga dan neraka, saya dulu orang yang liberal, tapi sekarang ternyata saya merasa liberal itu bertentangan dengan islam yang sebenarnya

  18. Kang Manto says:

    Bagi saya, ber-Islam itu sederhana saja. Ittibaurrasul wassalafussalih, mencontoh apa yang diperbuat Rasulullah saw dan para salafus salih. Sebab generasi inilah yang menjalankan islam secara murni dan dijamin syurga.
    Kalau hari ini, orang pinter emang makin banyak. Semua ingin mengaktualisasi diri sehingga tidak jarang terjadi gesekan kepentingan. Termasuk soal pemahaman beragama ini. Mulai dari cap islam radikal, fundamental, tradisional hingga liberal.
    Hanya saja, bagi saya model islam yang terakhir itu (baca: liberal) sama sekali tidak pas buat hati dan pengamalan keseharian. Karena segala urusan hanya disandarkan pada akal manusia. Persoalan yang tidak bisa dinalar oleh akal, maka tidak dianggap tidak baik dan wajib ditolak. Mohon klarifikasinya.
    Padahal sesungguhnya kemampuan akal manusia itu terbatas, sedangkan fenomena hidup banyak yang menembus kelemahan akal itu sendiri. Qudrah dan iradah Allah contohnya. Itu sulit dicerna akal secara dhohir. Wallahu a’lam.
    Sepanjang bersandar pada al-Qur’an dan Sunnah, ber-Islam model apapun saya kira nggak masalah.

  19. bocahmiring says:

    Kang Manto yang baik,
    Maturnuwun sebelume sudah mau mampir ke blog saya ini. Islam liberal yang saya anut disini, sekali lagi adalah liberal dalam ber islam, jadi masih ada batasannya yaitu islam. Yang otomatis harus berdasar Qur’an dan Sunnah. nah, pemakaian akal pikir disini adalah bagaimana saya menafsirkannya saja. Bukanlah menalar segala sesuatunya.

    Sangat tepat sekali yang dicontohkan, Qudrah dan Iradah Allah tidak bisa dinalar, dan hanya bisa saya imani saja. Tapi lain halnya dengan pengartian hukum-hukum islam seperti waris, zakat atau hukum jilbab misalnya. Keliberalan saya adalah menafsirkan hal-hal semacam itu.

    Saya sendiri kurang sreg dengan keliberalan berislam yang berlebihan, yang misalnya sampai tidak bersandar pada Qur’an dan Sunnah seperti yang Kang Manto sebutkan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>